Senin, 19 Mei 2008

FILSAFAT ALQURAN

FILSAFAT EKONOMI DALAM ALQURAN
Oleh Bunyamin
[Maaf, transliterasi belum diselaraskan; Amsal]

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah


Sejak manusia lahir, sejak itu pula ia butuh makanan, minuman, dan pakaian. Oleh karena itu, manusia lahir bersama dengan segala kebutuhannya. Pada awal peradaban manusia, kebutuhan itu terbatas dan masih bersifat sederhana. Dengan semakin majunya tingkat peradaban manusia, makin banyak dan bervariasi pula kebutuhannya. Hanya saja, alat pemenuh kebutuhan manusia terbatas adanya. Ketidakseimbangan antara kebutuhan yang selalu meningkat dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas, menyebabkan diperlukannya sebuah ilmu yang disebut ilmu ekonomi.

Ekonomi merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang sudah berkembang sejak beberapa abad yang lalu. Perkembangannya sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan bermula sejak tahun 1776, yaitu setelah Adam Smith, seorang pemikir dan ahli ekonomi Inggris, menerbitkan bukunya yang berjudul An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of the Nations. Adam Smith boleh dipandang sebagai bapak dari ilmu ekonomi.[1]

Sebelum Adam Smith, sudah banyak pemikir yang berbicara tentang persoalan ekonomi, namun pemikiran-pemikirannya itu belum dikemukakan secara sistematis. Topik-topik yang dibahas masih terbatas dan belum sampai pada analisis yang menyeluruh mengenai berbagai aspek dari kegiatan perekonomian dalam masyarakat. Oleh karena itu, pemikiran-pemikiran ekonomi mereka belum dipandang sebagai suatu cabang ilmu yang berdiri sendiri.

Sekitar empat abad sebelum masehi, Plato, dalam bukunya Republika, melahirkan pemikiran awal tentang perekonomian, namun pembahasannya belum dilakukan secara khusus, tetapi sejalan dengan pemikirannya tentang masyarakat yang sempurna. Gagasan Plato tentang ekonomi timbul secara tidak sengaja dari pemikirannya tentang keadilan dalam sebuah negara ideal. Dalam sebuah negara ideal, kemajuan tergantung pada pembagian kerja yang timbul secara alamiah dalam masyarakat.[2]

Dalam perkembangan selanjutnya, St. Albertus Magnus (1206-1280), salah seorang filosof dari Jerman, terkenal dengan pemikiran mengenai harga yang adil dan pantas, yaitu harga yang sama besarnya dengan biaya-biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk menciptakan barang tersebut. Dengan berpatokan pada harga yang adil dan pantas, maka dalam aktivitas tukar-menukar barang harus disertai dengan unsur etis. Setelah itu, St. Thomas Aquinas (1225-1274), seorang teolog dan filosof dari Italia, dengan berlatar belakang dengan ajaran-ajaran Injil, ia mengutuk bunga dan menganggap orang yang membungakan uang sebagai pendosa. Menurutnya, memungut bunga dari uang yang dipinjamkan adalah tidak adil, bahkan sama artinya dengan menjual sesuatu yang tidak ada.[3]

Meski pemikiran-pemikiran ekonomi sudah muncul dari para filosof terdahulu, bahkan sejak Adam Smith hingga sekarang para ahli ekonomi sudah mengeluarkan berbagai teori tentang ekonomi, namun bukan berarti bahwa semua persoalan manusia sudah berhasil diatasi. Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, masih banyak terlihat dan selalu saja ada masalah yang dihadapi, dan persoalan terbesar adalah menyangkut ekonomi. Dengan konsekuensi ini, menyebabkan perlunya ilmu ekonomi digali lebih dalam, lebih canggih, dan lebih ampuh untuk digunakan dalam menghadapi tantangan, baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang.

Alquran sebagai kitab suci yang membawa petunjuk bagi manusia, dipandang sebagai kitab suci yang paling siap menghadapi semua persoalan hidup umat manusia. Kesiapannya itu disebabkan karena Alquran dapat dipahami dan ditafsirkan, baik secara tekstual dan kontekstual. Salah satu di antara petunjuk yang dibawa oleh Alquran adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan teori ekonomi. Pengkajian terhadap ayat-ayat ekonomi dengan pendekatan multidisipliner sangat diperlukan, sebab dari hasil pengkajian tersebut diharapkan dapat menghasilkan teori-teori baru yang bisa mengatasi persoalan ekonomi yang sedang bergulir.


B. Rumusan Masalah

Mengacu dari latar belakang masalah di atas, maka masalah yang muncul adalah perdebatan tentang ada atau tidaknya filsafat dalam Alquran. Dari perdebatan itu melahirkan kesimpulan bahwa filsafat Alquran tidak dapat diingkari adanya. Masalah selanjutnya yang muncul adalah apakah ada filsafat ekonomi dalam Alquran? Masalah inilah yang menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini dengan mengangkat tiga sub masalah:
1. Bagaimana hakikat dan esensi ekonomi dalam Alquran?
2. Bagaimana wujud dan perilaku ekonomi dalam Alquran?
3. Bagaimana urgensi ekonomi bagi umat Islam menurut pandangan Alquran?


C. Signifikansi Penelitian

Kajian makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi esensi ekonomi sesuai yang dipahami dari ayat-ayat Alquran. Harapan yang terkandung dalam tujuan tersebut adalah terpenuhinya hasrat untuk mengetahui dan menjelaskan hakikat ekonomi, wujud ekonomi, dan urgensi ekonomi bagi umat Islam menurut Alquran.

Selain tujuan di atas, makalah ini juga diharapkan memberi kontribusi dalam menambah literatur kajian ilmiah dalam bidang pemikiran ekonomi dan tafsir Alquran, sekaligus memperluas wawasan dalam pengkajian studi filsafat Alquran.


BAB II
KONSEP DASAR FILSAFAT EKONOMI


A. Filsafat

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia. Philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada); sedangkan sophos (kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi, philosophia berarti cinta akan kebijaksanaan[4] atau cinta kepada ilmu pengetahuan. Seseorang yang cinta kepada ilmu pengetahuan, maka ia akan mengejarnya hingga menembus dasar terakhir dari ilmu tersebut. Meski demikian, tak seorang pun yang mampu memiliki pemahaman secara menyeluruh dari ilmu yang dikerjarnya itu.

Dalam proses pengejaran ilmu pengetahuan itu, manusia akan mengerahkan segenap kemampuan daya pikirnya. Oleh karena itu, tidak salah jika Artistoteles mengatakan bahwa filsafat adalah pikiran tentang pikiran-pikiran.[5] Demikian pula, tidak keliru jika L. T. Hobhouse mengatakan bahwa filsafat adalah suatu interpretasi terhadap realitas secara rasional sebagai suatu keseluruhan.[6]

Dari definisi yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa filsafat berusaha mengkaji kenyataan dalam aspek yang menyeluruh, mencari sebab mendasar segala sesuatu, dan memahami segala sesuatu hingga akar paling dalam. Dengan pemahaman seperti di atas, maka filsafat mudah dipergunakan orang dalam arti beraneka ragam, bahkan dengan mudah ditemukan penggunaannya dalam masyarakat.

Meski diakui bahwa bidang kajian filsafat sangat luas, namun penekanan kajiannya tertuju kepada tiga bidang pokok, yaitu ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Bidang pertama terkait dengan esensi dari benda atau makhluk secara abstrak, atau studi tentang hakikat tertinggi dari realitas. Bidang kedua terkait dengan teori tentang metode atau dasar dari pengetahuan, atau studi tentang hakikat tertinggi dari kebenaran dan batasan ilmu manusia. Bidang ketiga terkait dengan penarikan manfaat dari sesuatu, atau studi tentang hakikat tertinggi dari realitas dan arti dari nilai-nilai.[7]

B. Ekonomi

Kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikonomia. Oikos berarti rumah tangga, sedangkan nomos berarti aturan, kaidah, atau mengelola. Jadi, oikonomia berarti kaidah-kaidah, aturan-aturan, atau cara pengelolaan suatu rumah tangga.[8] Dari sini dapat dipahami bahwa ekonomi adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan rumah tangganya.

Dalam kaitannya sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan, ilmu ekonomi didefinisikan sebagai ilmu tentang pemakaian faktor-faktor produksi yang tersedia seefisien mungkin, dalam memenuhi permintaan masyarakat yang tidak terbatas atas barang dan jasa.[9] Definisi lain, seperti yang dikemukakan oleh Deliarnov, mengatakan bahwa ilmu ekonomi adalah salah satu ilmu sosial yang khusus mempelajari tingkah laku manusia atau segolongan masyarakat dalam usahanya memenuhi kebutuhan yang relatif tak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas adanya.[10]

Dari definisi di atas, dapat dipahami bahwa masalah ekonomi tidak terlepas dari kebutuhan manusia atau masyarakat dengan faktor produksi yang tersedia, baik dalam bentuk barang maupun jasa. Di satu pihak, dalam setiap masyarakat selalu terdapat keinginan yang tidak terbatas untuk menikmati berbagai jenis barang yang dibutuhkan. Namun, di lain pihak terkadang sumber daya dan faktor produksi tidak tersedia, sehingga mereka tidak dapat memenuhi kebutuhannya itu.

Dalam pembahasan lebih luas, kajian ekonomi dikenal dua bentuk, yaitu mikroekonomi dan makroekonomi. Bentuk pertama berkepentingan dengan efisiensi penyediaan produk tertentu, sedangkan bentuk kedua berkepentingan dengan efisiensi penggunaan seluruh sumber daya dalam perekonomian, khususnya pencapaian kesempatan kerja penuh dari sumber daya yang tersedia dan pertumbuhan hasil yang dicapai sepanjang waktu.[11]

C. Hubungan antara Filsafat dengan Ekonomi

Filsafat adalah induk ilmu pengetahuan, namun spesialisasi ilmu berkembang dan ilmu itu semakin melepaskan diri dari induknya. Meski demikian, peran dan fungsi filsafat tidak dapat digantikan oleh ilmu apa pun, sebab ilmu tidak pernah menyentuh permasalahan manusia yang paling mendasar. Disadari atau tidak, dalam perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, ternyata tidak pernah memberi jawaban atas semua pertanyaan manusia. Di sinilah peran filsafat sebagai forum dan ajang diskusi, sekaligus tempat mencari hikmat di tengah-tengah ilmu pengetahuan.[12]

Dalam kedudukannya sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan, maka dengan sendirinya filsafat tidak dapat dipisahkan dari semua cabang ilmu pengetahuan, termasuk ilmu ekonomi. Dengan kata lain, ilmu ekonomi termasuk cabang ilmu yang tidak pernah lepas dari kajian filsafat.

Sebenarnya, pemikiran tentang ekonomi sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Istilah oikonomia dalam arti pengelolaan rumah tangga, pertama kali digunakan oleh Xenophone, seorang filosof Yunani. Hanya saja, pembahasan tentang ekonomi pada waktu itu masih merupakan bagian dari filsafat moral. Republika yang ditulis oleh Plato dinilai sebagai karya yang melahirkan pemikiran paling awal tentang perekonomian, namun pembahasannya tidak dilakukan secara khusus. Gagasan Plato tentang ekonomi timbul secara tidak sengaja dari pemikirannya tentang keadilan dalam sebuah negara yang ideal.[13] Ini menunjukkan bahwa pembahasan Plato tentang ekonomi termasuk dalam bagian filsafat politik.

Seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu ekonomi, maka sangat wajar jika pemikiran-pemikiran yang berkenaan dengan ekonomi melahirkan sebuah cabang filsafat baru yang disebut dengan filsafat ekonomi. Menurut Save M. Dagun, alasan mempelajari tema filsafat ekonomi adalah untuk lebih memperbanyak arus dasar teori ekonomi. Hal ini sangat berguna bagi orang yang belum pernah menjamah teori-teori ekonomi atau masih sedikit mengenyam ilmu ekonomi.[14] Dari sini dapat dipahami bahwa kajian filsafat ekonomi berkenaan dengan pemikiran-pemikiran yang mendasari tentang usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

D. Dasar Filsafat Ekonomi dalam Alquran

Dalam Alquran ditemukan beberapa ayat yang menganjurkan kepada manusia untuk memikirkan tentang kehidupan ekonomi mereka. Ayat-ayat tersebut dapat dijadikan sebagai argumen untuk menegaskan bahwa di dalam Alquran terdapat konsep filsafat ekonomi yang bisa dikembangkan. Ayat-ayat yang dimaksud, antara lain QS al-NaÎl/16/70: 11, 67, dan QS al-Baqarah/2/87: 219. Yang menjadi titik tolak dalam ketiga ayat ini adalah kata yatafakkarÙn dan ya’qilÙn.

Dalam QS al-NaÎl/16/70: 11, Allah menganjurkan kepada manusia untuk memikirkan cara pengolahan tanah yang baik dan penyesuaian antara tanah dengan tanaman yang tepat untuk meningkatkan produksi. Zaitun, kuma, anggur, dan buah-buahan bukan hanya untuk keperluan konsumsi, tetapi berpotensi menghasilkan keuntungan yang besar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

QS al-NaÎl/16/70: 67 menjelaskan bahwa kurma dan anggur sebagai aset produksi, jika diolah secara profesional dapat menghasilkan minuman segar yang dibutuhkan oleh konsumen. Hanya saja manusia disuruh berpikir agar dalam proses pengolahan itu sebaiknya tidak menghasilkan minuman yang memabukkan, meski bakal keuntungan yang akan diperoleh berlimpah. Rezeki yang diperoleh melalui produksi barang yang halal akan mendapat berkah dari Allah.

Menurut QS al-Baqarah/2/87: 219, ada tiga persoalan yang perlu dipikirkan. Pertama, bagi konsumen khamar seharusnya berpikir bahwa di balik manfaatnya, ternyata khamar dapat merusak kesehatan. Selain itu, produsen harus lebih mementingkan kemaslahatan umum konsumen daripada meraut keuntungan sebagai maslahat pribadi. Baik konsumen maupun produsen khamar akan mendapat dosa yang jauh lebih besar daripada manfaat atau keuntungan yang diperolehnya. Kedua, judi sebagai salah satu cara perolehan harta, meski di satu sisi dapat menghasilkan keuntungan secara cepat, tetapi di sisi lain perjudian membawa kebangkrutan bagi pelakunya. Di samping itu, bandar judi seharusnya lebih mementingkan kemaslahatan masyarakat daripada keuntungan pribadi. Pelaku dan bandar judi akan menanggung dosa besar yang tidak seimbang dengan keuntungan yang diraihnya. Ketiga, meski infak merupakan salah satu ibadah yang berdimensi sosial, namun tidak berarti bahwa semua harta yang dimiliki harus diinfakkan. Manusia harus berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Kewajiban mengeluarkan zakat dan infak berlaku jika ada kelebihan dari kebutuhan standar primer rumah tangga.



BAB III
KAJIAN FILSAFAT EKONOMI DALAM ALQURAN

A. Hakikat dan Esensi Ekonomi

Dalam bahasa Arab, kata iqtiÒÁd diterjemahkan dengan ekonomi. Kata ini berasal dari kata dasar qaÒada yang tersusun dari huruf qaf, Òad, dan dal. Menurut Ibn FÁris, akar kata ini memiliki tiga arti asal: (1) mendatangi sesuatu, (2) melakukan kesengajaan, dan (3) menghimpun sesuatu.[15]

Kata qaÒada dalam berbagai bentuknya, terulang sebanyak enam kali dalam Alquran.[16] Dari pengulangan itu, satu kali menggunakan kata qaÒdu yang berarti jalan lurus (QS al-NaÎl/16/70: 9), satu kali menggunakan kata wa aqÒid yang berarti sederhana (QS LuqmÁn/31/57: 19), satu kali menggunakan kata qÁÒidan yang berarti mudah (QS al-Taubah/9/113: 42), satu kali menggunakan kata muqtaÒidah yang berarti pertengahan (QS al-MÁ’idah/5/112: 66), serta dua kali di antaranya menggunakan kata muqtaÒid yang berarti pertengahan (QS FÁÔir/35/43: 32) dan jalan lurus (QS LuqmÁn/31/57: 32).

Dari berbagai makna terhadap penggunaan kata qaÒada di atas, pada umumnya berdimensi sosiologis dan teologis. Satu-satunya makna yang berdimensi ekonomis adalah kata muqtaÒidah yang terdapat dalam QS al-MÁ’idah/5/112: 66. Jika ayat ini diterima sebagai dasar penggunaan kata iqtiÒÁd dalam arti ekonomi menurut Alquran, maka konsep ekonomi yang ditawarkan Alquran mengarah kepada konsep keseimbangan dan kesederhanaan.

Dalam mengungkap esensi ekonomi, Alquran tidak menggunakan kata iqtiÒÁd, tetapi menggunakan kata yang beragam, seperti amwÁl, rizq, naÒÐb, faÃl, al-khair, al-ªahab, dan al-fiÃÃah. Dari beberapa kata ini, yang akan diuraikan adalah tiga kata yang pertama (amwÁl, rizq, dan naÒÐb). Dipilihnya tiga kata ini, selain dianggap bisa mewakili kata-kata lainnya, juga karena kata ini terkait langsung dengan hasil usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

1. AmwÁl

Kata amwÁl atau mÁl, tersusun dari huruf mim, ya, dan lam yang bermakna dasar, terjadinya kecenderungan pada sesuatu yang ada di sekitarnya.[17] Arti ini menunjukkan bahwa harta atau uang memiliki daya tarik, sehingga semua manusia cenderung memilikinya.

Dalam berbagai bentuknya, kata ini terulang sebanyak 86 kali dalam Alquran.[18] Dari pengulangan ini, 25 kali di antaranya dalam bentuk tunggal (mÁl), misalnya QS al-An’Ám/6/55: 152. Sementara itu, 61 kali terulang dalam bentuk plural (amwÁl), misalnya QS al-Taubah/9/113: 34. Dari jumlah ini, yang terbanyak dibicarakan adalah harta dalam bentuk obyek. Hal ini memberi kesan bahwa seharusnya harta atau uang menjadi obyek kegiatan manusia. Kegiatan yang dimaksud adalah aktivitas ekonomi.[19]

2. Rizq

Kata rizq tersusun dari huruf ra, zai, dan qaf yang mempunyai arti asal pemberian yang terkait dengan waktu.[20] Arti ini menunjukkan bahwa rezeki merupakan pemberian Allah yang diberikan kepada manusia melalui hasil usahanya, baik di waktu siang maupun malam.
Kata rizq dalam berbagai bentuknya, terulang dalam Alquran sebanyak 123 kali.[21] Dari pengulangan ini, di antaranya ada yang bermakna: (1) rezeki secara umum, seperti dalam QS al-Baqarah/2/87: 3; (2) rezeki dalam bentuk buah-buahan, seperti dalam QS IbrÁhÐm/14/72: 32; (3) rezeki dalam bentuk makanan, seperti dalam QS YÙsuf/12/53: 37; (4) rezeki dalam bentuk hewan ternak, seperti dalam QS al-Íajj/22/103: 28; dan (5) rezeki dari langit dan bumi, seperti dalam QS al-Naml/27/48: 64.

M. Quraish Shihab mengatakan bahwa hasil usaha manusia yang bermanfaat baginya untuk memenuhi hajat dan kemaslahatannya, maka perolehan itu dinamai rezeki. Namun, jika perolehan itu tidak dimanfaatkan untuk dirinya, maka dinamai kasb (hasil usaha). Harta warisan adalah rezeki bagi ahli waris, tetapi bagi pewaris harta itu hanya kasb.[22]

3. NaÒÐb

Kata naÒÐb berasal dari kata naÒaba yang tersusun dari huruf nun, Òa, dan ba yang mempunyai arti dasar menegakkan sesuatu dan mengarahkan pada persamaan. Arti ini menunjukkan bahwa semua orang yang berkarya memiliki hak yang sama dari hasil usahanya.

Kata naÒÐb dalam berbagai bentuknya, terulang dalam Alquran sebanyak 32 kali.[23] Dari pengulangan itu, ada yang bermakna: (1) hasil usaha, seperti dalam QS al-Baqarah/2/87: 202; (2) al-kitÁb, seperti dalam QS Àli ‘ImrÁn/3/89: 23; (3) harta warisan, seperti dalam QS al-NisÁ’/4/92: 7; (4) kerajaan, seperti dalam QS al-NisÁ’/4/92: 53; (5) pahala, seperti dalam QS al-NisÁ’/4/92: 85; (6) kemenangan/harta rampasan, seperti dalam QS al-NisÁ’/4/92: 141; (7) pengorbanan untuk berhala, seperti dalam QS al-MÁ’idah/5/112: 90; (8) tanaman dan ternak, seperti dalam QS al-An’Ám/6/55: 136; (9) pembalasan di akhirat, seperti dalam QS HÙd/11/52: 109; (10) kenikmatan duniawi, seperti dalam QS al-QaÒaÒ/28/49: 77; dan (11) azab neraka, seperti dalam QS al-Mu’min/40/60: 47. Dari makna yang beragam ini, yang terkait dengan esensi ekonomi adalah naÒÐb dalam pengertiannya sebagai hasil usaha, harta warisan, harta rampasan, tanaman dan ternak, dan kenikmatan duniawi.

Jika dianalisis lebih jauh konteks penggunaan kata naÒÐb dalam Alquran, tampaknya obyek kata ini menganjurkan agar pemilik harta itu diberikan haknya.[24] Artinya, setiap orang yang sudah bekerja, maka ia berhak menerima bagiannya. Begitu pula setiap ahli waris atau orang yang ikut berperang, masing-masing berhak menerima bagiannya.

B. Wujud dan Perilaku Ekonomi

1. Produksi

Produksi adalah aktivitas menciptakan manfaat di masa kini dan masa datang. Proses produksi bisa dilakukan oleh satu orang atau sebuah perusahaan.[25] Selain itu, produksi juga merujuk kepada prosesnya yang mentransformasikan input mejadi output. Segala jenis yang masuk dalam proses produksi untuk menghasilkan output, disebut faktor produksi.[26]

Menurut Muhammad Abdul Mannan, ada empat faktor yang harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan produksi yang maksimal, yaitu tanah (sumber daya alam), tenaga kerja (sumber daya manusia), modal, dan organisasi. Dalam pengelolaan fakror-faktor produksi ini, harus berdasarkan pada prinsip kesejahteraan ekonomi yang tidak mengabaikan pertimbangan kesejahteraan umum yang menyangkut persoalan agama, pendidikan, dan moral.[27]

a. Sumber Daya Alam

Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam peningkatan produksi adalah pemanfaatan sumber daya alam yang maksimal. Faktor produksi ini meliputi tanah, berbagai jenis barang tambang, hasil hutan, air, dan hasil laut.[28]

Dalam berbagai ayat, Alquran memberikan isyarat kepada manusia untuk memanfaatkan sumber daya alam yang telah disiapkan oleh Allah. Di antara ayat-ayat yang dimaksud adalah QS al-Baqarah/2/87: 164, QS al-MÁ’idah/5/112: 4, dan 96.

Dari ketiga ayat di atas, ditemukan empat sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan, yaitu tanah, laut, air, dan binatang buruan. Tanah dapat dimanfaatkan untuk areal pertanian, persawahan, dan pemukiman, bahkan di dalamnya dapat digali berbagai jenis barang tambang. Di dalam laut dapat ditemukan ikan dan benda-benda lain yang dapat dijadikan sumber produksi, bahkan laut dapat dimanfaatkan sebagai sarana pelayaran. Air yang telah disiapkan oleh Allah, dapat dimanfaatkan untuk irigasi dan pembangkit tenaga listrik. Binatang buruan yang ada di hutan, seperti rusa, dapat pula dijadikan sebagai aset produksi.

Setiap manusia dapat memperoleh hak milik atas sumber-sumber daya alam setelah memenuhi kewajibannya terhadap masyarakat dan pemerintah setempat. Penggunaan dan pemeliharaan sumber daya alam itu, dapat menimbulkan dua komponen penghasilan: (1) penghasilan dari sumber-sumber daya alam sendiri; serta (2) penghasilan dari perbaikan dalam penggunaan sumber-sumber daya alam melalui kerja dan modal.[29]

b. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia atau tenaga kerja merupakan faktor produksi yang diakui pada setiap sistem ekonomi. Sadono Sukirno, membedakan tenaga kerja atas tiga golongan: (1) tenaga kerja kasar, yaitu tenaga kerja yang berpendidikan rendah dan tidak mempunyai keahlian; (2) tenaga kerja terampil, yaitu tenaga kerja yang mempunyai keahlian dari pendidikan atau pengalaman; dan (3) tenaga kerja terdidik, yaitu tenaga kerja yang mempunyai pendidikan tinggi dan memiliki keahlian dalam bidang-bidang tertentu.[30] Dari tiga macam tenaga kerja ini, golongan yang disebut terakhir dinilai sebagai tenaga kerja profesional, yang bisa menghasilkan produksi yang maksimal.

QS al-IsrÁ‘/17/50: 84 memberi petunjuk tentang pentingnya seseorang bekerja secara profesional. Dalam ayat ini terdapat frasa ya’mal ‘alÁ syÁkilatih. Kata ya’mal berasal dari kata ‘amala yang tersusun dari huruf ‘ain, mim dan lam yang mempunyai arti dasar hal yang umum berkaitan dengan perbuatan yang dikerjakan.[31] Menurut al-RÁgib, kata al-‘amal mengandung sebuah perbuatan yang disengaja dan perbuatan itu menimbulkan pengaruh.[32]

Tampaknya, kata ya’mal pada ayat di atas menunjuk kepada pekerjaan secara umum. Meski demikian, tidak berarti bahwa manusia bebas memilih pekerjaan. QS al-‘AÒr/103/13: 3 menegaskan bahwa pekerjaan yang tidak rugi adalah ‘amil al-ÒÁliÎÁt. Bahkan, QS al-BurÙj/85/27: 11 berjanji akan memberikan balasan surga bagi orang yang memilih pekerjaan yang baik (‘amil al-ÒÁliÎÁt). Sebaliknya, QS al-Najm/53/23: 31 mengancam akan memberi balasan yang setimpal atas pekerjaan yang jahat (asÁ’Ù bimÁ ‘amilÙ).

Dalam kaitannya dengan pemilihan jenis pekerjaan, al-NabÎÁniy menyebutkan beberapa jenis pekerjaan yang dianggap layak dilakukan untuk mendapatkan harta, yaitu: (1) menghidupkan tanah mati, (2) menggali kandungan bumi, (3) berburu, (4) makelar, (5) perseroan antara harta dengan tenaga, (6) mengairi lahan pertanian, dan (7) kontrak tenaga kerja.[33] Sementara itu, Muhammad dan R. Lukman Fauroni menyebutkan tiga jenis pekerjaan, yaitu (1) bidang pertanian, (2) bidang industri, dan (3) bidang profesional.[34] Dalam kehidupan global sekarang ini, seseorang dapat memilih jenis pekerjaan sesuai dengan keahliannya. Misalnya, sopir angkutan, pembantu rumah tangga, tukang kayu, servis elektronik, montir mobil, berdagang, guru (dosen), dokter, buruh, atau pegawai.

Menurut QS al-IsrÁ‘/17/50: 84, untuk melakukan suatu pekerjaan, harus dibarengi dengan syÁkilah. Kata ini berakar dari huruf syin, kaf, dan lam yang berarti mempunyai mayoritas dalam hal yang serupa.[35] Al-RÁgib mengartikan kata syÁkilah dengan sesuatu yang terikat pada tabiatnya.[36] Dengan begitu, dapat dipahami bahwa frasa ya’mal ‘alÁ syÁkilatih memerintahkan seseorang untuk bekerja menurut tabiatnya. Tabiat seseorang memberikan gambaran dari keinginan psikologis yang dimilikinya berkaitan dengan pekerjaan yang digelutinya, dan tabiat tersebut tidak dapat dipaksakan kepada orang lain. Untuk terciptanya profesionalitas pada setiap tenaga kerja, maka diperlukan tiga hal, yaitu kesungguhan, moralitas, dan intelektualitas dalam tingkat yang mapan. Dengan adanya tiga dimensi ini pada seseorang secara sinergik, maka produktivitasnya diharapkan semakin optimal.

Jika dilihat dari segi manajemen ketenagakerjaan, setiap orang berhak memilih pekerjaan sesuai dengan keahliannya. Jika ada orang yang bekerja tidak sesuai dengan keahliannya, maka dia bisa melakukan rotasi pekerjaan.[37] Seorang pemimpin instansi atau manejer perusahaan, dapat melakukan mutasi sesuai dengan keahlian atau profesi bawahannya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas instansi atau perusahaan yang dipimpinnya.

c. Modal

Modal sebagai faktor produksi, tidak kalah pentingnya dengan sumber daya manusia dan sumber daya alam. Yang dimaksud dengan modal di sini adalah benda atau barang yang dapat digunakan untuk memproduksi barang dan jasa. Misalnya, sistem pengairan, alat pengangkutan (darat, laut, dan udara), bangunan pabrik, pertokoan, serta mesin-mesin dan peralatan pabrik.[38]

M. Quraish Shihab mengatakan bahwa, modal tidak boleh diabaikan, manusia berkewajiban menggunakannya dengan baik agar bisa terus berproduksi dan tidak habis digunakan. Modal tidak boleh menghasilkan dari dirinya sendiri, tetapi harus dengan usaha manusia. Ini salah satu sebabnya sehingga Alquran melarang pembungaan uang dalam bentuk riba dan perjudian.[39]

Larangan pembungaan uang dalam bentuk riba aÃ’Áfan muÃÁ’afah, dikemukakan dalam QS Àli ‘ImrÁn/3/89: 130. Bahkan, keharamannya dalam proses transaksi perekonomian, secara tegas disebutkan dalam QS al-Baqarah/2/87: 275. Menurut M. Umer Chapra, alasan mendasar pelarangan ini karena Alquran bertujuan untuk menegakkan suatu sistem ekonomi yang bebas dari semua bentuk eksploitasi, terutama ketidakadilan antara penyedia dana dan pelaku bisnis. Penyedia dana dijamin dengan suatu keuntungan positif tanpa bekerja apa pun atau menanggung risiko. Sedangkan pelaku bisnis, meski sudah mengelola dan bekerja keras, tidak dijamin keuntungan positif demikian. [40] Keynes, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Abdul Mannan, mengatakan bahwa, suatu tingkat bunga yang tinggi akan menekan kegiatan ekonomi dan menyebabkan volume penanaman modal yang lebih kecil. Akibatnya, pendapatan uang yang terkumpul akan mengecil, dan dengan adanya kecenderungan yang sama untuk menabung, volume tabungan akan berkurang.[41]

d. Organisasi

Organisasi muncul sebagai faktor produksi, sangat terkait dengan pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia.[42] Dengan demikian, yang dimaksud dengan organisasi di sini adalah perusahaan yang mengelola produksi barang dan jasa.

Para manajer dalam mengelola perusahaan, seharusnya membagi dividen dengan pemegang saham atau membagi keuntungan dengan mitra kerja secara koperatif dalam bentuk muÃÁrabah atau musyÁrakah. Selain itu, para manajer dituntut memiliki integritas moral, ketepatan, kejujuran, dan keadilan dalam mengelola perusahaannya.[43] Dalam kaitan ini, setiap perusahaan memiliki tiga tanggung jawab sosial. Pertama, para manajer secara jujur memfokuskan bagi kepentingan perusahaan. Kedua, para manajer memiliki tugas untuk menyeimbangkan kepentingan pokok dari para pelaku perusahaan. Ketiga, para manajer bertanggung jawab dalam melayani masyarakat, yakni dengan program-program sosial yang menguntungkan masyarakat.[44]

QS al-NaÎl/16/70: 90 sangat menekankan tentang pentingnya berlaku adil dan berbuat baik, sekaligus melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan sikap permusuhan kepada sesama manusia. Jika seorang manajer berlaku adil dan berbuat baik kepada karyawan dan mitra usahanya, maka dia akan dihargai dan dihormati. Dalam keadaan demikian, produktivitasnya akan semakin meningkat. Sebaliknya, jika manejer tersebut berlaku sewenang-wenang, maka akan menimbulkan rasa benci dan sikap permusuhan dari mitra kerja dan karyawannya. Dalam keadaan seperti itu, perusahaannya akan bangkrut.

2. Distribusi

Distribusi adalah pembagian atau pengiriman barang kepada orang banyak atau beberapa tempat. Jika dilihat dari segi fungsinya, distributor berupaya mengadakan sosialisasi produksi kepada konsumen. Sosialisasi tersebut tidak terlepas dari permintaan, penawaran, dan harga.[45]

Kajian tentang distribusi pendapatan, tidak terlepas dari konsep moral ekonomi. Konsep moral ekonomi tersebut, sangat terkait dengan kebendaan, kepemilikan, dan kekayaan. Kesemuanya harus diarahkan untuk tujuan menjaga persamaan atau mengikis kesenjangan antara orang kaya dan miskin.[46] Dalam kaitan ini, Alquran menekankan ada dua hal, yaitu perlunya keseimbangan peredaran harta di kalangan masyarakat dan larangan menimbun harta kekayaan.

a. Keseimbangan Peredaran Harta

QS al-Íasyr/59/101: 7 menekankan pentingnya sirkulasi kekayaan terjadi kepada semua anggota masyarakat, sekaligus menentang terjadinya sirkulasi kekayaan hanya pada segelintir orang. Menurut al-MaudÙdiy, klausa kaylÁ yakÙnu dÙlatan bayn al-agniyÁ’ minkum merupakan soko guru dalam sistem ekonomi Islam.[47]

Kata dÙlatan tersusun dari huruf dal, wau, dan lam yang mempunyai dua arti pokok: (1) pengalihan sesuatu dari suatu tempat ke tempat lain; (2) lemah dan empuk.[48] Penggunaan kata ini dengan segala bentuknya hanya dua kali dalam Alquran, selain pada ayat yang disebutkan di atas, juga terdapat pada QS Àli ‘ImrÁn/3/89: 140. Pada ayat yang disebutkan terakhir, ditemukan penggunaan kata itu dengan pola nudÁwil (pergiliran suasana) dalam konteks kekalahan pada perang UÎud dan kemenangan kaum muslimin pada perang Badr.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kata dawal terkait dengan waktu, baik dalam keadaan senang maupun duka. Dalam konteks perekonomian, distributor dalam melaksanakan distribusi harta (barang dan jasa) harus dilakukan tanpa mengenal suasana, baik suasana bahagia maupun dalam suasana duka. Pada sisi lain, kegiatan distribusi adalah berdimensi perjuangan, terutama jika dikaitkan dengan klausa terakhir dari QS Àli ‘ImrÁn/3/89: 140.

Aspek lain pada kata nudÁwil dalam QS Àli ‘ImrÁn/3/89: 140, pelaku kata tersebut adalah naÎnu yang berarti kami.[49] Dari sini dapat dipahami bahwa pelaksanaan kegiatan distribusi melibatkan pihak lain atau ia berdimensi sosial. Sebuah kegiatan distribusi secara esensial melibatkan banyak pihak, dan semua pihak tersebut harus bekerja sesuai dengan bidangnya.

Kata al-agniyÁ’ dalam QS al-Íasyr/59/101: 7, secara etimologis berakar pada huruf gain, nun, dan ya (Îarf mu'tal) yang mempunyai dua arti dasar, yaitu kecukupan dan suara.[50] Dari segi material menunjukkan bahwa pihak al-ginÁ’ mempunyai kewajiban untuk memberikan hartanya untuk didistribusikan, sedangkan dari segi psikologis kegiatan distribusi itu harus dinilai sebagai perwujudan sifat ketergantungan manusia, dalam arti saling membutuhkan.

Menurut M. Quraish Shihab, QS al-Íasyr/59/101: 7 membawa prinsip keseimbangan yang mengantar kepada pencegahan bentuk monopoli dan pemusatan ekonomi pada satu tangan atau satu kelompok. Atas dasar ini, Alquran menolak dengan tegas daur sempit yang menjadikan kekayaan hanya berkisar pada orang atau kelompok tertentu.[51]

Menurut Sadono Sukirno, praktik monopoli dalam kegiatan ekonomi, pada umumnya disebabkan oleh adanya seseorang atau sebuah perusahaan memiliki sumber daya tertentu yang tidak dimiliki oleh orang atau perusahaan lain. Selain itu, terkadang juga disebabkan oleh keinginan seseorang atau sebuah perusahaan untuk menikmati sendiri skala ekonomis yang dilakukannya.[52] Monopoli dalam bentuk kedua inilah yang tidak dibenarkan Alquran.

b. Larangan Menimbun Kekayaan

Mengenai larangan menimbun harta, dasarnya ditemukan dalam QS al-Taubah/9/113: 34. Dalam ayat ini, Allah mengancam orang-orang yang menimbun harta dengan siksa yang pedih di akhirat. Kata yaknizÙn yang menjadi obyek kajian dalam ayat ini berakar pada huruf kaf, nun, dan zai yang secara etimologis berarti mengumpulkan sesuatu.[53]

Al-NabÎÁniy membedakan antara menabung dengan menimbun. Menabung adalah suatu bentuk menyimpan harta karena adanya kebutuhan, misalnya untuk membangun rumah, membuka bisnis, atau keperluan lain. Penyimpanan seperti ini tidak akan mempengaruhi aktivitas perekonomian, sebab bukan merupakan tindakan menarik uang, dan uang tersebut akan beredar kembali ketika kebutuhan itu sudah tercapai. Sedangkan menimbun adalah suatu bentuk penyimpanan harta tanpa kebutuhan. Penyimpanan seperti ini akan menarik uang dari pasar dan mempengaruhi aktivitas perekonomian. Bentuk penyimpanan yang terakhir inilah yang dilarang dalam Alquran.[54]

Lebih lanjut al-NabÎÁniy mengatakan, penyebutan emas dan perak dalam ayat di atas menunjukkan bahwa zat emas dan perak pada saat turunnya ayat itu menjadi alat tukar dan satuan hitung tenaga yang terdapat dalam suatu pekerjaan, sekaligus sebagai standar manfaat yang terdapat pada harta, seperti dirham, dinar, atau batangan.[55] Dari sini dapat dipahami bahwa yang ditunjuk ayat itu bukan zatnya, tetapi fungsinya. Artinya, harta yang tidak boleh ditimbun bukan hanya emas dan perak, tetapi termasuk uang dan jenis barang lain yang bisa mempengaruhi aktivitas perekonomian dan mengakibatkan kenaikan harga yang tidak semestinya.

Hal lain yang perlu dikaji dalam ayat di atas adalah huruf waw yang terletak di antara klausa wa al-laªÐna yaknizÙna al-ªahab wa al-fiÃÃah dengan klausa lÁ yunfiqÙnahÁ fiy sabÐl AllÁh. Jika dianalisis dari segi aspek gramatikal bahasa Arab, huruf waw tersebut berfungsi sebagai huruf aÔaf, sehingga kata yunfiqÙna berkedudukan sebagai ma’ÔÙf kepada kata yaknizÙna. Dengan begitu, dapat dipahami bahwa yang diancam siksaan pedih hanya orang-orang yang menimbun harta tanpa mengeluarkan infak.

Tampaknya, al-NabÎÁniy mengabaikan pendekatan kebahasaan di atas. Ia berpendapat bahwa larangan menimbun harta dalam bentuk emas dan perak adalah larangan total. Jika ada orang yang berpegang pada kebolehan menimbun harta setelah zakatnya dikeluarkan, tentu telah meninggalkan hukum ayat ini.[56] Pendapat ini menimbulkan pemahaman bahwa ancaman siksaan pedih dalam tersebut, selain tertuju kepada orang yang menimbun harta, juga kepada orang-orang yang tidak mengeluarkan infak. Artinya, menimbun harta merupakan satu masalah dan kewajiban mengeluarkan infak merupakan masalah lain. Oleh karena itu, meski harta yang ditimbun itu sudah dikeluarkan infaknya, tidak menjadikan larangan menimbun itu gugur.

Argumen al-NabÎāniy di atas semakin tidak kuat jika ayat tersebut dihubungkan dengan ayat sesudahnya (QS al-Taubah/9/113: 35). Pada ayat yang disebutkan terakhir menjelaskan bahwa para penimbun akan dibakar bersama dengan harta mereka di neraka. Allah mengatakan kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu timbun untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah akibatnya dari apa yang kamu timbun itu”. Hal ini menunjukkan bahwa timbunan harta yang tidak berfungsi sosial akan dibakar bersama penimbunnya di neraka.

3. Konsumsi

Yang dimaksud dengan konsumsi adalah pemakaian atau penggunaan barang atau benda dari hasil produksi. Dalam teori ekonomi, konsumsi sangat terkait dengan utilita (tingkat kepuasan seseorang dari pemakaian barang). Dalam hal ini dibedakan antara utilita keseluruhan dengan utilita marjinal. Utilita keseluruhan adalah menyangkut kepuasan menyeluruh dari penggunaan beberapa barang, sedangkan utilita marjinal adalah menyangkut perubahan kepuasan akibat penggunaan lebih banyak atau lebih sedikit dari barang tertentu.[57]

Berbicara tentang tingkat kepuasan konsumen dalam pemakaian suatu barang menurut Alquran, paling tidak, terdapat dua ayat yang bisa dijadikan landasan, yaitu QS al-IsrÁ’/17/50: 26-27 dan QS al-A’rÁf/7/39: 31.

Klausa wa Áti ªÁ al-qurbÁ Îaqqah wa al-miskÐn wa ibn sabÐl dalam QS al-IsrÁ’/17/50: 26 menunjukkan bahwa sekedar menunaikan hak-hak ekonomi keluarga tidaklah cukup, tetapi justru pihak pemilik harta harus lebih aktif dalam menunaikan hak-hak sosial ekonomi. Hal ini menunjukkan betapa eksistensi harta bagi pihak konsumen itu bernilai amanah untuk masyarakat lingkungan, dan hal itu merupakan hak-hak ekstern.

Konsumsi yang bersifat interen adalah dimanfaatkan oleh pihak konsumen untuk kepentingan dirinya dan keluarganya. Dalam hal ini, terdapat larangan bersikap mubazir bagi konsumen melalui klausa wa lÁ tubaªªir tabªÐrÁ. Kata tubaªªir tersusun dari huruf ba, ªa, dan ra yang mempunyai arti dasar menebarkan sesuatu dan menghambur-hamburkannya.[58]

Dengan pengertian ini dipahami bahwa konsep yang terkandung dalam kata yang serumpun dengan baªara adalah sikap konsumtif yang tidak memperhitungkan pemanfaatan harta. Penghamburan adalah sebuah atribut ketidakmampuan seseorang mendatangkan nilai manfaat atas harta yang dikonsumsinya. Sebagai titipan Allah, harta sangat terkait dengan manajerial, khususnya mengenai aspek perencanaan.[59] Dengan demikian, dalam pemanfaatan harta secara internal, aspek perencanaan mendapat perhatian yang serius. Ketidakmampuan mengkonsumsi barang secara terencana, pada dasarnya termasuk perbuatan syaitan (QS al-IsrÁ’/17/50: 27).

Dalam QS al-A’rÁf/7/39: 31 terdapat frasa wa lÁ tusrifÙ. Kata tusrifÙ tersusun dari huruf sin, ra, dan fa yang berarti melampaui batas dan mengabaikan sesuatu.[60] Dari sini dapat dipahami bahwa kata tusrifÙ menunjukkan kepada suatu perbuatan yang melebihi dari batas kewajaran.

Jika kata tusrifÙ dikaitkan dengan makanan, maka berlebihan dalam mengkonsumsi suatu makanan, dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Adapun jika kata itu dihubungkan dengan tingkat kepuasan dalam pemakaian suatu barang, maka pemakaian barang yang melebihi batas kewajaran, dapat merusak tatanan ekonomi masyarakat. Itulah sebabnya sehingga Allah tidak menyukai orang-orang yang mengkonsumsi suatu barang melebihi dari tingkat kepuasan.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa aspek manajemen ekonomi dalam kehidupan konsumen, tidak hanya sekedar dimaksudkan untuk memenuhi kepentingan fisik sebagai makhluk ekonom, tetapi terkait dengan dimensi moral. Dimensi terakhir ini, bertentangan dengan sikap boros, pamer, dan royal, sebab dapat mendatangkan ancaman kestabilan sosial ekonomi.[61] Hal-hal tersebut merupakan sikap negatif, yang jika berkembang dalam masyarakat, dapat menciptakan kecemburuan sosial, terutama bagi pihak-pihak yang mempunyai hak-hak sosial ekonomi.

C. Urgensi Ekonomi dalam Kehidupan Umat Islam

Kegiatan ekonomi adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, baik berupa barang dan jasa. Oleh karena itu, tujuan akhir kegiatan ekonomi adalah untuk memuaskan kebutuhan manusia terhadap barang dan jasa.[62] Jika dilihat dari segi motivasi, maka ada tiga hal yang mendorong umat Islam untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, yaitu untuk menyambung hidup, untuk mendapatkan kehidupan yang layak, dan bekerja adalah ibadah.

1. Kebutuhan Ekonomi untuk Menyambung Hidup

Setiap manusia memiliki hak untuk bertahan hidup, dan karenanya ia harus berusaha untuk mendapatkan haknya itu. Agar bisa tetap bertahan hidup, maka manusia harus berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, seperti kebutuhan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Alquran dalam berbagai ayatnya, senantiasa mengingatkan manusia untuk bekerja keras, bahkan Allah akan menilai siapa di antara manusia yang terbaik kualitas kerjanya untuk diberikan balasan yang setimpal. QS al-Kahf/18/69: 7 dianggap sebagai ayat yang relevan dengan pembahasan ini.

Yang disorot dalam ayat di atas adalah klausa li nabluwahum ayyuhum aÎsan ‘amalÁ. Menurut A. Qodri Azizy, klausa tersebut mengandung ajaran kompetisi di antara sesama manusia, bahkan di antara sesama makhluk. Penilaian perbandingan antara prestasi atau kualitas amal yang satu dengan prestasi atau kualitas amal yang lain menjadi inti persoalan. Ungkapan li nabluwahum sekaligus dapat berarti tujuan. Yang diuji adalah amal di dunia, bukan di akhirat, sebab kehidupan di akhirat nanti hanya konsekuensi, hasil, atau akibat dari amal di dunia.[63]

Lebih lanjut, A. Qodri Azizy mengatakan, kata ‘amal memiliki banyak makna, misalnya perbuatan, tindakan, aktivitas, kerja, pekerjaan, cara bertindak, prestasi, produktivitas, dan hasil kerja. Dari sekian banyak makna ini, jelas bahwa kata ‘amal tidak terlepas dari aktivitas duniawi, yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan harta kekayaan. Dengan demikian, frasa aÎsan ‘amalÁ seharusnya dimaknai dengan mengutamakan prestasi keduniaan, yang di dalamnya mencakup prestasi ekonomi. Prestasi keduniaan tersebut harus berorientasi ke arah prestasi keakhiratan, bukan prestasi yang maksiat atau melawan Allah.[64]

Dalam kaitannya dengan prestasi ekonomi, ayat tersebut memberi isyarat bahwa Allah akan memberi rezeki kepada manusia sesuai dengan hasil kerjanya. Oleh karena itu, sangat wajar jika mereka yang kuat, rajin, dan tekun bekerja akan mendapatkan rezeki yang banyak. Sebaliknya, bagi mereka yang malas bekerja, rezekinya tidak akan mampu menutupi kebutuhan hidupnya.
Apabila ada orang yang tidak mampu membuka sendiri lapangan kerja untuk dirinya atau tidak mampu bekerja karena sakit, sudah tua, atau sebab-sebab lain yang membuatnya tidak mampu bekerja, maka biaya hidupnya wajib ditanggung oleh orang yang berkelebihan.[65] Di sinilah fungsinya zakat bagi orang-orang yang memiliki kehidupan ekonomi yang layak.

QS al-Ma‘Árij/70/79: 24-25 dan QS al-Taubah/9/113: 60 menginformasikan bahwa di dalam harta orang-orang mampu, terdapat hak tertentu bagi orang yang tidak memiliki apa-apa (meminta atau tidak meminta), seperti orang-orang fakir, miskin, orang yang dililit utang, atau orang yang sedang dalam perjalanan.

2. Kebutuhan Ekonomi untuk Kesejahteraan Hidup

Alquran mengajarkan manusia untuk mengejar kehidupan sejahtera di dunia dan di akhirat. Kesejahteraan duniawi tidak terlepas dari terwujudnya kualitas hidup yang meliputi kesejahteraan ekonomi. Manusia yang miskin, terkebelakang, dan bodoh tidak akan disebut sebagai manusia yang berkualitas dalam hidupnya.

Tuntunan Alquran yang memotivasi manusia untuk memperoleh kesejahteraan ekonomi, antara lain dapat ditemukan dalam QS al-QaÒaÒ/28/49: 77. Menurut A. Qodri Azizy, ayat ini mendorong kemajuan keduniaan, termasuk di dalamnya kemajuan harta kekayaan. Dorongan semangat Alquran untuk kehidupan di dunia adalah untuk menjadi umat yang maju, termasuk di dalamnya maju di bidang ekonomi. Inti dari kemajuan ekonomi adalah terwujudnya kesejahteraan manusia.[66]

Perintah berbuat baik dalam ayat di atas memiliki muatan etika agar dalam memperoleh harta, tetap menjaga perbuatan kebaikan atau menjaga hak-hak asasi orang lain, seperti tidak serakah, tidak lalim, dan tidak merampas hak orang lain. Artinya, harta itu harus diperoleh dengan cara yang benar dan tidak merugikan orang lain.

Perintah mencari kebahagiaan di negeri akhirat di permulaan ayat, paling tidak membawa dua konsekuensi. Pertama, kesejahteraan ekonomi akan berpengaruh kepada terpenuhinya semua kebutuhan sehari-hari. Untuk melaksanakan salat, dibutuhkan pakaian dan peralatan salat yang bersih dan bagus. Untuk mengeluarkan zakat atau infak, dibutuhkan kelebihan dari kebutuhan primer. Untuk melaksanakan puasa, dibutuhkan makanan dan minuman yang bergizi pada saat sahur dan berbuka. Demikian pula untuk menunaikan ibadah haji, disyaratkan berbagai kemampuan, termasuk kemampuan ekonomi dan kesehatan. Kedua, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga adalah suatu kewajiban yang tidak kalah pentingnya daripada ibadah-ibadah maÎÃah. Bagi yang memperoleh harta dengan cara yang benar dan halal, akan mendapat pahala dan dijanji dengan surga yang penuh kenikmatan. Sebaliknya, bagi memperoleh harta dengan cara yang batil atau lalim, akan mendapat dosa dan diancam dengan neraka yang penuh siksaan.

Selain QS al-QaÒaÒ/28/49: 77 di atas, ayat lain yang relevan adalah QS al-Baqarah/2/87: 201. Ayat yang disebutkan terakhir ini merupakan puncak dari segala doa yang dipanjatkan oleh umat Islam kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Kebaikan di dunia tidak terlepas dari terpenuhinya tingkat kepuasan ekonomi, sedangkan kebaikan di akhirat adalah terlepasnya dari siksa neraka dan didapatkannya kesenangan surga.

3. Bekerja adalah Ibadah

Dalam berbagai ayat, Alquran menjanjikan pahala di sisi Allah bagi orang yang beramal saleh. QS al-Baqarah/2/87: 62, misalnya, mengingatkan bahwa siapa pun yang beriman dan beramal saleh, apakah ia Muslim, Yahudi, Nasrani, atau Ñābi’īn, maka ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Salah satu makna dari frasa ‘amila ÒāliÎan dalam ayat tersebut adalah bekerja dengan baik.

Berdasarkan ayat di atas dan ayat-ayat lain yang senada, maka para ulama menegaskan bahwa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga adalah sebuah kewajiban yang setingkat dengan ibadah. Orang yang bekerja akan mendapat pahala sebagaimana orang yang beribadah.[67] Dari sini dapat dipahami bahwa mencari nafkah merupakan tugas mulia yang akan mengantar seseorang pada posisi terhormat, baik di sisi Allah maupun di tengah-tengah masyarakat.

Begitu pentingnya berusaha mencari nafkah untuk kepentingan diri dan keluarga, sehingga QS al-Jum’ah/62/110: 10 mengingatkan kepada umat Islam bahwa, apabila telah usai melaksanakan salat Jum’at, maka bertebaranlah di muka bumi untuk mencari karunia Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak hanya dituntut kewajiban salat, tetapi juga dituntut memenuhi kebutuhan ekonominya.

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa, pada suatu hari, Rasulullah saw. sedang berjalan bersama dengan beberapa sahabat. Di tengah jalan, mereka menemukan seorang pemuda yang gagah perkasa sedang bekerja membelah kayu bakar. Para sahabat berkomentar: “Celakalah pemuda itu, mengapa keperkasaannya tidak digunakan di jalan Allah (fiy sabīl Allāh)“. Rasulullah saw. bersabda: “Kalian jangan demikian. Kalau dia bekerja untuk terhindar dari mengemis, maka dia di jalan Allah. Kalau dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi orang tua atau keluarganya yang lemah, maka dia pun di jalan Allah. Namun, kalau dia bekerja untuk bermegah-megahan atau untuk memperkaya diri sendiri, maka dia di jalan setan (fiy sabīl al-syaiÔān)“.[68]

Riwayat di atas semakin mempertegas bahwa bekerja merupakan suatu jenis ibadah yang tidak kalah pentingnya dengan ibadah-ibadah lain, seperti salat dan berperang di jalan Allah. Oleh karena itu, tidak pantas bagi seorang muslim menjadi pengangguran. Sikap malas atau pengangguran merupakan wujud dari sikap apatis yang akan menimbulkan kemiskinan, kehinaan, dan bencana dalam kehidupan manusia dan masyarakat.

Pada suatu hari, Rasulullah saw. menemukan Abū Umāmah sedang duduk bersimpuh di mesjid, pada saat orang lain sedang giat bekerja. Beliau bertanya: “Mengapa engkau berada dalam mesjid di luar waktu salat, wahai Abū Umāmah?“. Abū Umāmah menjawab: “Saya bersedih karena banyak utang, wahai Rasulullah“. Rasulullah berkata kepadanya: “Mari aku tunjukkan kepadamu beberapa kalimat. Jika engkau membacanya, Allah akan menghapus kesedihanmu dan menjadikan utangmu terbayar. Bacalah pada waktu pagi dan sore“. Kalimat yang dimaksud Rasulullah adalah: ”Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari susah dan sedih, lemah dan malas, takut dan kikir, serta tertekan utang dan penindasan orang lain”. Kalimat inilah yang memberi motivasi kepada Abū Umāmah bekerja dengan giat untuk membayar utangnya.[69]

Riwayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah sangat prihatin terhadap pengangguran. Kalimat itu, pada dasarnya, tidak hanya sekadar untuk dibaca atau diucapkan secara rutin waktu pagi dan sore. Akan tetapi, makna yang terkandung dalam kalimat itu harus diamalkan atau diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika hanya sekadar dibaca tanpa diaplikasikan, maka kalimat itu tidak akan menghasilkan sesuatu.


BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Ekonomi adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Alquran menggunakan berbagai term yang berkenaan dengan esensi ekonomi, di antaranya adalah kata amwÁl, rizq, dan naÒÐb. Kata pertama tertuju kepada makna secara umum dari harta yang dimiliki manusia. Kata kedua pada umumnya tertuju kepada sumber daya alam yang disiapkan oleh Allah untuk kepentingan pemenuhan hajat dan kebutuhan manusia yang dimanfaatkan untuk dirinya sendiri. Adapun kata terakhir lebih menekankan pada perolehan harta sebagai hak seseorang, baik melalui hasil usaha maupun hak lain seperti warisan.

2. Dalam upaya meningkatkan produksi yang maksimal, Alquran menekankan pentingnya pemanfaatan sumber daya alam yang sudah disiapkan oleh Allah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang maksimal. Dalam kegiatan distribusi, Alquran menetapkan prinsip keseimbangan peredaran harta serta melarang bentuk monopoli perdagangan dan penimbunan harta yang bisa merusak kestabilan ekonomi. Dalam kegiatan konsumsi, Alquran melarang sikap boros, royal, dan pamer, sebab dapat menciptakan kecemburuan sosial, terutama bagi pihak-pihak yang mempunyai hak-hak sosial ekonomi.

3. Tujuan akhir kegiatan ekonomi adalah untuk memuaskan kebutuhan manusia terhadap barang dan jasa. Jika dilihat dari segi motivasinya, maka ada tiga hal yang mendorong umat Islam untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, yaitu untuk menyambung hidup, untuk mendapatkan kesejahteraan duniawi dan ukhrawi, serta bekerja merupakan ibadah.

B. Implikasi Penelitian

Semua umat Islam sepakat bahwa Alquran bukan buku filsafat atau ensiklopedi ilmu pengetahuan, bahkan lebih tepat disebut sebagai kitab suci yang berfungsi sebagai hudan li al-muttaqÐn (QS al-Baqarah/2/87: 2) dan hudan li al-nÁs (QS al-Baqarah/2/87/: 185). Meski demikian, tidak dapat disangkal bahwa muatan petunjuk-petunjuk Alquran banyak yang berkenaan dengan konsep filsafat dan teori ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya ilmu ekonomi. Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif terhadap ayat-ayat Alquran yang terkait dengan konsep ekonomi, diperlukan pendekatan multi disipliner, terutama pendekatan lingistik, historis, teleologis, dan sosiologis.

Jika diamati kajian-kajian teori ekonomi umum, baik mikro maupun makro, pada umumnya ditemukan kajian ekonomi murni. Berbeda dengan konsep ekonomi yang terdapat Alquran, petunjuk ayat-ayatnya tidak terlepas dari persoalan moral, sosial, dan hukum. Artinya, di satu sisi Alquran memerintahkan manusia memperhatikan urusan ekonominya, tetapi di sisi lain persoalan ekonomi tersebut sarat dengan muatan etika yang selalu bersinggungan dengan hak-hak sosial. Ketika persoalan etika ekonomi diabaikan, maka Alquran mengancam pelaku ekonomi itu dengan dosa dan siksaan di neraka.
Wa AllÁh a’lam bi al-ÒawÁb.


DAFTAR PUSTAKA

Al-AÒfahÁny, al-RÁgib. MufradÁt AlfÁÛ al-Qur‘Án. Damsyiq: DÁr al-Qalam, 1992.
Azizy, A. Qodri. Membangun Fondasi Ekonomi Umat: Meneropong Prospek Berkembangnya Ekonomi Islam. Cet. II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Cet. III; Jakarta: PT Gramedia Pustaka, 2002.
Chapra, M. Umer. Towards a Just Monetary System, diterjemahkan oleh Ikhwan Abidin Basri dengan judul Sistem Moneter Islam. Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 2000.
CD Program. Al-Qur’Án al-KarÐm. Keluaran Kelima, Versi 6.50, 1997.
CD Program Hadis. Al-Mausū’ah al-Íadīś al-Syarīf. Versi II, 1991-1997.
Dagun, Save M. Pengantar Filsafat Ekonomi. Cet. I; Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992.
Deliarnov. Perkembangan Pemikiran Ekonomi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.
Íamd, GassÁn. TafsÐr Min Nismat al-Qur’Án Kalimat wa BayÁn. Al-QÁhirah: DÁr al-SalÁm, 1986.
Handayaningrat, Soewarsono. Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen. Jakarta: Mas Agung, 1988.
Ibn ZakariyÁ, Abiy al-Íusain AÎmad ibn FÁris. Mu’jam al-MaqÁyis fiy al-Lugah. Cet. II; BairÙt: DÁr al-Fikr li al-ÓabÁ’ah wa al-Nasyr wa al-TauzÐ’, 1998.
Lipsey, Richard G., Peter O. Steiner, dan Douglas D. Purvis, Economics, diterjemahkan oleh Anas Sidik dengan judul Ilmu Ekonomi. Cet. V; Jakarta: Bina Aksara, 1988.
Mannan, Muhammad Abdul. Islamic Economic: Theory and Practice, diterjemahkan oleh M. Nastangin dengan judul Teori dan Praktek Ekonomi Islam (Dasar-dasar Ekonomi Islam). Yogyakarta: PT Dana Bakti Wakaf, 1993.
Al-MaudÙdy, AbÙ al-A'lÁ. Usus al-IqtiÒÁd bain al-IslÁm wa NuÛum al-Mu’ÁÒirah, diterjemahkan oleh Abdullah Suhaeli dengan judul Dasar-Dasar Ekonomi dalam Islam. Bandung: Al-Maarif, 1984.
Muhammad dan R. Lukman Fauroni. Visi Al-Qur’an tentang Etika Bisnis. Jakarta: Salemba Diniyah, 2002.
Al-NabÎÁniy, Taqiy al-DÐn. Al-NiÛÁm al-IqtiÒÁdiy fiy al-IslÁm, diterjemahkan oleh Moh. Maghfur Wachid dengan judul Membangun Sistem Ekonomi Alternatif: Perspektif Islam. Cet. II; Surabaya: Risalah Gusti, 1996.
Nangoi, Ronald. Pengembangan Produksi dan Sumber Daya Manusia. Cet. II; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996.
Nasution, Mustafa Edwin, et all. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. Cet. I; Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2006.
Pass, Christopher, Bryan Lowes, dan Leslie Davies. Dictionary of Economics, diterjemahkan oleh Tumpal Rumapea dan Posman Haloho dengan judul. Kamus Lengkap Ekonomi. Cet. II; Jakarta: Erlangga, 1998.
Sarwar, H. G. Philosophy of Qur’an, diterjemahkan oleh Zainal Muhtadin Mursyid dengan judul Filsafat Al-Quran. Cet. I; Jakarta: CV. Rajawali, 1990.
Setiawan, B., et all. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Cet. I; Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1989.
Shihab, M. Quraish. Dia Dimana-mana: “Tangan” Tuhan di Balik Setiap Fenomena. Cet. V; Tangerang: Lentera Hati, 2007.
--------. Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Cet. XIX; Bandung: Mizan, 2007.
Sukirno, Sadono. Pengantar Teori Mikroekonomi. Cet. XV; Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2001.
Al-Tamīmiy, ‘Izz al-Dīn KhāÔib. Al-‘Amal fiy al-Islām, diterjemahkan oleh Azwier Butun dengan judul Bisnis Islami. Cet. I; Jakarta: PT Fikahati Aneska, 1992.


LAMPIRAN
(Ayat-ayat yang Dikutip dalam Makalah ini)

Bab II:
- يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالْأَعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (النحل: 11).
- وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (النحل: 67).
- يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ (البقرة: 219).

Bab III:
- وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ (النحل: 9).
- وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِوَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (لقمان: 19).
- لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَاتَّبَعُوكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنْفُسَهُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (التوبة: 42).
- وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ (المائدة: 66).
- ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (فاطر: 32).
- وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ (لقمان: 32).
- وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (الأنعام: 152).
- يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (التوبة: 34).
- الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (البقرة: 3).
- اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ (إبراهيم: 32).
- قَالَ لَا يَأْتِيكُمَا طَعَامٌ تُرْزَقَانِهِ إِلَّا نَبَّأْتُكُمَا بِتَأْوِيلِهِ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَكُمَا ذَلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِي رَبِّي إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (يوسف: 37).
- لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (الحج: 28).
- أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (النمل: 64).
- أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ (البقرة: 202).
- أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (آل عمران: 23).
- لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا (النساء: 7).
- أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا(النساء: 53).
- مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا(النساء: 85).
- الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنَ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا(النساء:141).
- يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(المائدة: 90).
- وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ(الأنعام: 136).
- فَلَا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِمَّا يَعْبُدُ هَؤُلَاءِ مَا يَعْبُدُونَ إِلَّا كَمَا يَعْبُدُ ءَابَاؤُهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِنَّا لَمُوَفُّوهُمْ نَصِيبَهُمْ غَيْرَ مَنْقُوصٍ(هود: 109).
- وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ(القصص: 77).
- وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ(المؤمن: 47).
- إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(البقرة: 164).
- يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ(المائدة: 4).
- أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ(المائدة: 96).
- قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا(الإسراء: 84).
- إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ(العصر: 3).
- إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ(البروج: 11).
- وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى(النجم: 31).
- يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(آل عمران: 130).
- الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ(البقرة: 275).
- إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ(النحل: 90).
- مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ(الحشر: 7).
- إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ(آل عمران: 140).
- يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ(التوبة: 34).
- يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ(التوبة: 35).
- وَءَاتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا(الإسراء: 26-27).
- يَابَنِي ءَادَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ(الأعراف: 31).
- إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا(الكهف: 7).
- وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ. لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ(المعارج: 24-25).
- إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ(التوبة: 60).
- وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(البقرة: 201).
- إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ(البقرة: 62).
- فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(الجمعة: 10).
- عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْفَقْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ عَنِّي خَطَايَايَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ (رواه البخاري).

[1]Sadono Sukirno, Pengantar Teori Mikroekonomi (Cet. XV; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), h. 3.
[2]Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi (Edisi IV; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), h. 12.
[3]Ibid., h. 18.
[4]Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Cet. III; Jakarta: PT Gramedia Pustaka, 2002), h. 242.
[5]Definisi filsafat menurut Aristoteles di atas dikutip dari buku H. G. Sarwar, Philosophy of Qur’an, diterjemahkan oleh Zainal Muhtadin Mursyid dengan judul Filsafat Al-Quran (Cet. I; Jakarta: CV. Rajawali, 1990), h. 11.
[6]Definisi filsafat menurut L. T. Hobhouse di atas dikutip juga dari ibid., h. 10.
[7]Ibid., h. 22.
[8]Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), h. 2. Lihat juga Lorens Bagus, op. cit., h.183.
[9]Christopher Pass, Bryan Lowes, dan Leslie Davies, Dictionary of Economics, diterjemahkan oleh Tumpal Rumapea dan Posman Haloho dengan judul Kamus Lengkap Ekonomi (Cet. II; Jakarta: Erlangga, 1998), h. 182.
[10]Deliarnov, op. cit., h. 3.
[11]Christopher Pass, Bryan Lowes, dan Leslie Davies, op. cit., h. 183.
[12]B. Setiawan, et all., Ensiklopedi Nasional Indonesia (Cet. I; Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, 1989), Jilid V, h. 314.
[13]Deliarnov, op. cit., h. 11-12.
[14]Save M. Dagun, Pengantar Filsafat Ekonomi (Cet. I; Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992), h. 12.
[15]Abiy al-Íusain AÎmad ibn FÁris ibn ZakariyÁ, Mu’jam al-MaqÁyis fiy al-Lugah (Cet. II; BairÙt: DÁr al-Fikr li al-ÓabÁ’ah wa al-Nasyr wa al-TauzÐ’, 1998), h. 891.
[16]Perhitungan di atas didasarkan pada CD Program, al-Qur’Án al-KarÐm, Keluaran Kelima, Versi 6.50, 1997.
[17]Abiy al-Íusain AÎmad ibn FÁris ibn ZakariyÁ, op. cit., h. 971.
[18]Perhitungan di atas didasarkan pada CD Program, al-Qur’Án al-KarÐm, Keluaran Kelima, Versi 6.50, 1997.
[19]M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Cet. XIX; Bandung: Mizan, 2007), h. 405-406.
[20]Abiy al-Íusain AÎmad ibn FÁris ibn ZakariyÁ, op. cit., h. 401.
[21]Perhitungan di atas didasarkan pada CD Program, al-Qur’Án al-KarÐm, Keluaran Kelima, Versi 6.50, 1997.
[22]M. Quraish Shihab, Dia Dimana-mana: “Tangan” Tuhan di Balik Setiap Fenomena (Cet. V; Tangerang: Lentera Hati, 2007), h. 383-384.
[23]Perhitungan di atas didasarkan pada CD Program, al-Qur’Án al-KarÐm, Keluaran Kelima, Versi 6.50, 1997.
[24]GassÁn Íamd, TafsÐr Min Nismat al-Qur’Án Kalimat Wa BayÁn (al-QÁhirah: DÁr al-SalÁm, 1986), h. 415.
[25]Seorang penyanyi yang mengolah udara, alat-alat pernapasan, alat-alat pengucapan, pita suara, daya seni, dan keterampilannya, dapat menghasilkan suatu nyanyian atau lagu yang indah dan menarik masyarakat luas. Atau sebuah perusahaan tekstil besar dengan ribuan karyawan, yang menggunakan berbagai macam bahan baku dan mesin untuk menghasilkan tekstil yang bisa dipasarkan ke mancanegara. Lihat Mustafa Edwin Nasution, et all., Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam (Cet. I; Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2006), h. 108.
[26]Ilmu ekonomi menggolongkan faktor produksi ke dalam kapital (tanah, gedung, mesin, dan persediaan), material (bahan baku dan pendukung), serta manusia (individu atau kelompok, terampil atau tidak terampil). Lihat ibid.
[27]Muhammad Abdul Mannan, Islamic Economic: Theory and Practice, diterjemahkan oleh M. Nastangin dengan judul Teori dan Praktek Ekonomi Islam (Dasar-dasar Ekonomi Islam) (Yogyakarta: PT Dana Bakti Wakaf, 1993), h. 54-63.
[28]Sadono Sukirno, Pengantar Teori Mikroekonomi (Cet. XV; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), h. 7.
[29]Muhammad Abdul Mannan, op. cit., h. 57.
[30]Sadono Sukirno, loc. cit.
[31]Abiy al-Íusain AÎmad ibn FÁris ibn ZakariyÁ, op. cit., h. 703.
[32]Al-RÁgib al-AÒfahÁniy, MufradÁt AlfÁÛ al-Qur’Án (Damsyiq: DÁr al-Qalam, 1992), h. 587.
[33]Taqiy al-DÐn al-NabÎÁniy, al-NiÛÁm al-IqtiÒÁdiy fiy al-IslÁm, diterjemahkan oleh Moh. Maghfur Wachid dengan judul Membangun Sistem Ekonomi Alternatif: Perspektif Islam (Cet. II; Surabaya: Risalah Gusti, 1996), h. 74.
[34]Muhammad dan R. Lukman Fauroni, Visi Al-Qur’an tentang Etika Bisnis (Jakarta: Salemba Diniyah, 2002), h. 135.
[35]Abiy al-Íusain AÎmad ibn FÁris ibn ZakariyÁ, op. cit., h. 533.
[36]Al-RÁgib al-AÒfahÁniy, op. cit., h. 463.
[37]Rotasi pekerjaan adalah sebuah teknik yang memungkinkan pekerja untuk berpindah pekerjaan dengan keterampilan yang berbeda. Kesempatan untuk mengembangkan keterampilan yang lain, memberi tantangan dan mendorong suatu achievement. Pekerja dihindari dari kegiatan yang bersifat monoton dan rutin. Rotasi tidak selalu mengubah isi pekerjaan, tetapi bisa saja mengubah shift kerja. Rotasi ini memberi perspektif yang luas dari seluruh proses produksi yang banyak diterapkan dalam perusahaan-perusahaan. Lihat Ronald Nangoi, Pengembangan Produksi dan Sumber Daya Manusia (Cet. II; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), h. 46.
[38]Sadono Sukirno, loc. cit.
[39]M. Quraish Shihab, Wawasan, op. cit., h. 406.
[40]M. Umer Chapra, Towards a Just Monetary System, diterjemahkan oleh Ikhwan Abidin Basri dengan judul Sistem Moneter Islam (Cet. I; Jakarta: Gema Insani Press, 2000), h. 28.
[41]Muhammad Abdul Mannan, op. cit., h. 60.
[42]Ibid., h. 62.
[43]Ibid., h. 63.
[44]Muhammad dan R. Lukman Fauroni, op. cit., h. 114.
[45]Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan permintaan dan penawaran untuk komoditi. Setelah itu, permintaan dan penawaran berkerja bersama-sama untuk menentukan harga. Permintaan dan penawaran terbukti merupakan suatu konsep yang berguna dalam membicarakan keberhasilan dan sistem harga. Lihat Richard G. Lipsey, Peter O. Steiner, dan Douglas D. Purvis, Economics, diterjemahkan oleh Anas Sidik dengan judul Ilmu Ekonomi (Cet. V; Jakarta: Bina Aksara, 1988), h. 131-132.
[46]Mustafa Edwin Nasution, et all., op. cit., h. 119.
[47]AbÙ al-A'lÁ al-MaudÙdy, Usus al-IqtiÒÁd bain al-IslÁm wa NuÛum al-Mu’ÁÒirah, diterjemahkan oleh Abdullah Suhaeli dengan judul Dasar-Dasar Ekonomi dalam Islam (Bandung: Al-Maarif, 1984), h. 135.
[48]Abiy al-Íusain AÎmad ibn FÁris ibn ZakariyÁ, op. cit., h. 370.
[49]Dalam kaidah tafsir dikemukakan bahwa pengungkapan kata kami dalam kaitannya sebuah kata, menunjukkan bahwa perwujudan gagasan yang terkandung dalam kata itu melibatkan pihak-pihak selain Allah. Lihat al-RÁgib al-AÒfahÁniy, op. cit., h. 1189.
[50]Abiy al-Íusain AÎmad ibn FÁris ibn ZakariyÁ, op. cit., h. 805.
[51]M. Quraish Shihab, op. cit., h. 411.
[52]Sadono Sukirno, op. cit., h. 261.
[53]Abiy al-Íusain AÎmad ibn FÁris ibn ZakariyÁ, op. cit., h. 910.
[54]Taqiy al-DÐn al-NabÎÁniy, op. cit., h. 277.
[55]Ibid., h. 278.
[56]Ibid., h. 279.
[57]Richard G. Lipsey, Peter O. Steiner, dan Douglas D. Purvis, op. cit., h. 309.
[58]Abiy al-Íusain AÎmad ibn FÁris ibn ZakariyÁ, op. cit., h. 119.
[59]Perencanaan mencakup keputusan, penentuan tujuan kebijaksaan, menentukan metode dan prosedur dan waktu pelaksanaan. Lihat Soewarsono Handayaningrat, Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen (Jakarta: Mas Agung, 1988), h. 21.
[60]Abiy al-Íusain AÎmad ibn FÁris ibn ZakariyÁ, op. cit., h. 512.
[61]Pemborosan dalam sikap konsumtif dapat menimbulkan kelangkaan barang-barang yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan akibat kenaikan harga-harga. Lihat M. Quraish Shibab, op. cit.,h. 412.
[62]Christopher Pass, Bryan Lowes, dan Leslie Davies, Dictionary of Economics, diterjemahkan oleh Tumpal Rumapea dan Posman Haloho dengan judul Kamus Lengkap Ekonomi (Cet. II; Jakarta: Erlangga, 1998), h. 182-183..
[63]A. Qodri Azizy, Membangun Fondasi Ekonomi Umat: Meneropong Prospek Berkembangnya Ekonomi Islam (Cet. II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 45-46.
[64]Ibid., h. 46.
[65]Taqiy al-DÐn al-NabÎÁniy, op. cit., h. 119.
[66]A. Qodri Azizy, op. cit., h. 27.
[67]‘Izz al-Dīn KhāÔib al-Tamīmiy, al-‘Amal fiy al-Islām, diterjemahkan oleh Azwier Butun dengan judul Bisnis Islami (Cet. I; Jakarta: PT Fikahati Aneska, 1992), h. 31.
[68]Ibid., h. 39.
[69]Ibid., h. 33. Kalimat yang diajarkan oleh Rasulullah kepada Abū Umāmah, dapat dilihat redaksinya dalam ÑaÎīÎ al-Bukhāriy, Kitab al-Da’wāt, Bab al-Ta’awwuż min al-Ma’śim wa al-Magrim, Nomor Hadis 5891. Sumber data: CD program hadis al-Mausū’ah al-Íadīś al-Syarīf, versi II, 1991-1997. Bunyi redaksi Hadis Nabi tersebut terlampir.

Tidak ada komentar: